View Random Post /*Eric Meyer's based CSS tab*/ #tablist{ padding: 3px 0; margin-left: 0; margin-bottom: 0; margin-top: 0.1em; font: bold 12px Verdana; } #tablist li{ list-style: none; display: inline; margin: 0; } #tablist li a{ text-decoration: none; padding: 3px 0.5em; margin-left: 3px; border: 1px solid #778; border-bottom: none; background: white; } #tablist li a:link, #tablist li a:visited{ color: navy; } #tablist li a:hover{ color: #000000; background: #C1C1FF; border-color: #227; } #tablist li a.current{ background: lightyellow; } MATA_ES....

01 September 2009

Tajali (Manifestasi al-Haq)

Kata “tajali” (Ar.: tajalli) merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”.

Konsep tajali beranjak dari pandangan bahwa Allah Swt dalam kesendirian-Nya (sebelum ada alam) ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Karena itu, dijadikan-Nya alam ini. Dengan demikian, alam ini merupakan cermin bagi Allah Swt. Ketika Ia ingin melihat diri-Nya, Ia melihat pada alam. Dalam versi lain diterangkan bahwa Tuhan berkehendak untuk diketahui, maka Ia pun menampakkan Diri-Nya dalam bentuk tajali.

Proses penampakan diri Tuhan itu diuraikan oleh Ibn ’Arabi. Menurutnya, Zat Tuhan yang mujarrad dan transendental itu bertajali dalam tiga martabat melalui sifat dan asma (nama)-Nya, yang pada akhirnya muncul dalam berbagai wujud konkret-empiris. Ketiga martabat itu adalah martabat ahadiyah, martabat wahidiyah, dan martabat tajalli syuhudi.

Pada martabat ahadiyah, wujud Tuhan merupakan Zat Mutlak lagi mujarrad, tidak bernama dan tidak bersifat. Karena itu, Ia tidak dapat dipahami ataupun dikhayalkan. Pada martabat ini Tuhan—sering diistilahkan al-Haq oleh Ibn ’Arabi—berada dalam keadaan murni bagaikan kabut yang gelap (fi al-’amâ’); tidak sesudah, tidak sebelum, tidak terikat, tidak terpisah, tidak ada atas, tidak ada bawah, tidak mempunyai nama, tidak musammâ (dinamai). Pada martabat ini, al-Haq tidak dapat dikomunikasikan oleh siapa pun dan tidak dapat diketahui.

Martabat wahidiyah adalah penampakan pertama (ta’ayyun awwali) atau disebut juga martabat tajali zat pada sifat atau faydh al-aqdas (emanasi paling suci). Dalam aras ini, zat yang mujarrad itu bermanifestasi melalui sifat dan asma-Nya. Dengan manifestasi atau tajali ini, zat tersebut dinamakan Allah, Pengumpul dan Pengikat Sifat dan Nama yang Mahasempurna (al-asma al-husna, Allah). Akan tetapi, sifat dan nama itu sendiri identik dengan zat. Di sini kita berhadapan dengan zat Allah yang Esa, tetapi Ia mengandung di dalam diri-Nya berbagai bentuk potensial dari hakikat alam semesta atau entitas permanen (al-’a’yan tsabitah).

Martabat tajalli syuhudi disebut juga faidh al-muqaddas (emanasi suci) dan ta’ayyun tsani (entifikasi kedua, atau penampakan diri peringkat kedua). Pada martabat ini Allah Swt bertajali melalu asma dan sifat-Nya dalam kenyataan empiris atau alam kasatmata. Dengan kata lain, melalui firman kun (jadilah), maka entitas permanen secara aktual menjelma dalam berbagai citra atau bentuk alam semesta. Dengan demikian alam ini tidak lain adalah kumpulan fenomena empiris yang merupakan lokus atau mazhar tajali al-Haq. Alam yang menjadi wadah manifestasi itu sendiri merupakan wujud atau bentuk yang tidak ada akhirnya. Ia tidak lain laksana ’aradh atau aksiden (sifat yang datang kemudian) dan jauhar (substansi) dalam istilah ilmu kalam. Selama ada substansi, maka aksiden akan tetap ada. Begitu pula dalam tasawuf. Menurut Ibn ’Arabi, selama ada Allah, maka alam akan tetap ada, ia hanya muncul dan tenggelam tanpa akhir.

Konsepsi tajali Ibn ’Arabi kemudian dikembangkan oleh Syekh Muhammad Isa Sindhi al-Burhanpuri (ulama India abad ke-16) dalam tujuh martabat tajali, yang lazim disebut martabat tujuh. Selain dari tiga yang disebut dalam konsepsi versi Ibn ’Arabi, empat martabat lain dalam martabat tujuh adalah: martabat alam arwah, martabat alam mitsal, martabat alam ajsam, dan martabat insan kamil.

Martabat alam arwah adalah ”Nur Muhammad” yang dijadikan Allah Swt dari nur-Nya, dan dari nur Muhammad inilah muncullah ruh segala makhluk. Martabat alam mitsal adalah diferensiasi dari Nur Muhammad itu dalam ruh individual seperti laut melahirkan dirinya dalam citra ombak. Martabat alam ajsam adalah alam material yang terdiri dari empat unsur, yaitu api, angin, tanah, dan air. Keempat unsur material ini menjelma dalam wujud lahiriah dari alam ini dan keempat unsur tersebut saling menyatu dan suatu waktu terpisah. Adapun martabat insan kamil atau alam paripurna merupakan himpunan segala martabat sebelumnya. Martabat-martabat tersebut paling kentara terutama sekali pada Nabi Muhammad saw sehingga Nabi saw disebut insan kamil.

Tajali al-Haq dalam insan kamil ini terlebih dulu telah dikembangkan secara luas oleh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428, tokoh tasawuf) dalam karyanya al-Insân al-Kâmil fî Ma’rifat al-Awâkhir wa al-Awâ’il (Manusia Sempurna dalam Mengetahui [Allah] Sejak Awal hingga Akhirnya). Baginya, lokus tajali al-Haq yang paling sempurna adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia bersifat kadim lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa–salam Allah atas mereka semua—dan lain-lain hingga dalam bentuk nabi penutup, Muhammad saw. Kemudian ia berpindah kepada para wali dan berakhir pada wali penutup (khatam awliya), yaitu Isa as yang akan turun pada akhir zaman.

Dalam tradisi esoterisme Syi’ah, para imam Syi’ah Imamiyah—sejak Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib hingga Imam Mahdi (yang digaibkan Allah)—merupakan wali-wali yang memanisfetasikan diri sebagai insan kamil hakiki. Kepada merekalah, para pengikut Syi’ah Dua Belas sering kali bertawasul agar kebutuhan material-spiritual mereka terpenuhi.

Demikianlah proses tajali al-Haq pada alam semesta. Wadah tajali-Nya yang paling sempurna adalah insan, sementara insan yang paling sempurna sebagai wadah tajali-Nya adalah insan kamil dalam wujud Nabi Muhammad saw. Allahumma shalli ’ala Muhammad wa âli Muhammad!
Readmore »»

Konsep Ibn Arabi Tentang Al-Haqq dan al-Khalq

KATA al-Haqq dalam karya-karya Ibn ’Arabi memiliki beberapa pengertian yang berbeda dalam konteks-konteks yang berbeda juga. Dalam hal ini, makna al-Haqq yang dibicarakan dibatasi dalam konteks hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-khalq. Dalam konteks ini, al-Haqq adalah Allah, Sang Pencipta, Yang Esa, wujud, dan wajib al-wujud. Sementara, al-khalq adalah alam, makhluk, yang banyak, al-mawjudat dan al-mumkinat.

Menurut Ibn ’Arabi, hanya ada satu Realitas. Realitas ini kita pandang dari dua sudut yang berbeda. Ketika kita menganggapnya sebagai Esensi dari semua fenomena, Realitas itu kita namai al-Haqq (the Real). Sementara, ketika kita memandangnya sebagai fenomena yang termanifestasi dari Esensi tersebut, kita menyebutnya al-khalq. Al-Haqq dan al-khalq, Realitas dan Penampakan, Yang Satu dan Yang Banyak hanyalah nama-nama untuk dua aspek subjektif dari Realitas Tunggal.

Lantas, apakah hubungan ontologis antara al-Haqq dan al-Khalq, antara Allah dan alam, antara Sang Pencipta dan ciptaan, antara Yang Satu dan Yang Banyak? Sebelumnya, dalam masalah wujud, telah disebutkan bahwa satu-satunya wujud adalah Allah; tidak ada wujud selain wujud Allah. Dengan kata lain, wujud dalam pengertian hakiki hanya milik al-Haqq. Segala sesuatu selain al-Haqq sesungguhnya tidak memiliki wujud. Karena itu, wujud hanya satu yaitu al-Haqq. Jika satu-satu wujud adalah al-Haqq, bagaimana kedudukan ontologis al-khalq? Apakah alam identik dengan Tuhan? Atau, apakah alam tidak mempunyai wujud sama sekali?

Jawaban Ibn ’Arabi tampak ambigu. Menurutnya, alam adalah al-Haqq dan bukan al-Haqq, atau dengan kata lain, “Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa).

Dalam Futuhat-nya, Ibn ‘Arabi mengatakan,

Maka tidak ada dalam wujud kecuali Allah dan sifat-sifat dari entitas-entitas al-mumkinat yang dipersiapkan untuk disifati dengan wujud. Karena itu, dalam wujud adalah ia [entitas-entitas mumkinat] dan bukan dia. Karena yang nampak (azh-zhahir) adalah sifat-sifatnya, maka [itu] adalah ia [dalam wujud]. Tetapi ia tidak mempunyai entitas dalam wujud karena ia tidak ada [dalam wujud]. Dengan cara yang sama, ”[Itu adalah] Dia [Allah] dan bukan Dia; karena Dia adalah yang nampak, maka itu adalah Dia. Tetapi perbedaan antara maujudat ditangkap oleh akal dan indra karena adanya perbedaan sifat-sifat dari entitas-entitas, maka itu bukan Dia. (Noer, 47)

Istilah-istilah paradoks dalam irfan Ibn ’Arabi memang diakui juga oleh Bulent Rauf, seorang peminat Ibn ’Arabi masa modern. Menurutnya, Ibn ’Arabi acap menggunakan istilah-istilah ”pencipta adalah yang diciptakan”, ”Aku adalah Dia dan Dia adalah aku”, ”Aku adalah Dia dan bukan Dia”, ”Al-Haqq adalah al-khalq dan al-khalq adalah al-Haqq”, ”al-Haqq bukan al-khalq dan al-khalq bukan al-Haqq” dan seterusnya. Paradoks ini sebetulnya bukan paradoks sama sekali. Ia adalah konsep relatif dari dua aspek Realitas. Sesungguhnya, ada resiprositas utuh antara Yang Satu dan Yang Banyak sebagaimana dipahami oleh Ibn ’Arabi. Seperti halnya dua korelasi logis, tak ada suatu makna apa pun tanpa yang lain. (Rauf, 12)

Pada bagian lain dalam bukunya lain, Ibn ‘Arabi mengatakan,

Karena itu, alam menjadi tampak (zhahara) sebagai yang hidup, yang mendengar, yang melihat, yang mengetahui, yang berkehendak, yang berkuasa, dan yang berbicara. Ia [alam] bekerja sesuai dengan cara-Nya, sebagaimana Dia katakan, Katakan, ”Segala sesuatu bekerja sesuai dengan cara-Nya”. Alam adalah perbuatan-Nya karena itu ia menjadi tampak (zhahara) dengan sifat-sifat al-Haqq. Jika Anda mengatakan sesuatu tentang alam, ”Ia [alam] adalah al-Haqq”, Anda telah mengatakan kebenaran, karena Allah berkata, dan tetapi Allah telah melempar. Jika Anda mengatakan sesuatu tentangnya, ”Ia [alam] adalah ciptaan (khalq), Anda telah mengatakan kebenaran karena Dia berkata, ”ketika engkau melempar” (QS al-Anfal: 17). Karena itu, Dia terungkap dan terselimuti, mengafirmasi dan menegasi. Jadi, [itu adalah] Dia dan bukan Dia. Dia adalah yang tidak diketahui dan yang diketahui. Dan Nama-nama Indah adalah milik Allah [QS al-A’raf: 180], sedangkan penampakan-Nya melalui Nama-nama itu dengan menyerap Nama-nama lain (al-takhalluq) adalah milik alam. (Noer, 47)

Ayat-ayat yang dikutip di atas, menurut Chittick, merupakan ayat-ayat yang sering dirujuk Ibn ’Arabi guna memperlihatkan ”ambiguitas radikal” dalam wujud. Ibn ’Arabi sendiri mengakui betapa sulit dan rumitnya memahami hubungan ontologis antara Tuhan dan alam. Kesulitan dan kerumitan ini diungkapkannya berulang-ulang di antaranya ungkapan berikut,

Tetapi formula yang jelas tentang persoalan ini sangat sulit. Ungkapan verbal (‘ibarah) tidak mencukupi baginya dan konseptualisasi (tashawwur) tidak bisa mendefinisikannya karena ia lepas dengan cepat dan sifat-sifatnya berlawanan satu sama lain. (Noer, 48)

Hal yang lumrah, jika pada akhirnya banyak orang salah paham tentang pemikiran Ibn ’Arabi dan menuduhnya sebagai orang yang menyamakan Tuhan dengan alam, yang dalam istilah modern disebut ”panteis”, ”monis”, ”monis panteistik”, dan yang sejenis.

Kesulitan memahami relasi ontologis antara Tuhan dan alam muncul karena relasi itu selalu bersifat ambiguitas, mengandung pertentangan-pertentangan dalam dirinya tetapi merupakan suatu kesatuan utuh yang harmonis. Kesatuan pertentangan-pertentangan ini disebut al-jam’ bayna al-adhdhâd (”kesatuan antara pertentangan-pertentangan”) atau coincidentia oppositorum dalam bahasa filsafat Baratnya.

Dalam pandangan Ibn ’Arabi, alam adalah penyingkapan-diri atau tajali al-Haqq. Dengan demikian, segala sesuatu dan segala peristiwa di alam ini adalah entifikasi (ta’ayun) al-Haqq. Karena itu, baik Tuhan maupun alam, keduanya tidak bisa dipahami kecuali sebagai kesatuan antara kontradiksi-kontradiksi ontologis. Kontradiksi-kontradiksi ontologis dalam realitas bukan hanya bersifat horizontal tetapi juga vertikal seperti yang terlihat antara Nama al-Zhahir dan al-Bathin, al-Awwal dan al-Akhir.

Ibn ’Arabi memandang, realitas itu Satu, namun memiliki dua sifat yang berbeda: sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Kedua sifat ini hadir dalam segala sesuatu yang ada di alam. Dalam wujud hanya ada satu realitas yang dapat dipandang dari dua aspek yang berbeda. “Tidak ada dalam wujud kecuali satu realitas. Dipandang dari satu aspek, realitas itu kita sebut Yang Benar, Pelaku, dan Pencipta. Dipandang dari aspek lain, ia kita sebut ciptaan, penerima, dan makhluk.” (Noer, 50) Dengan demikian, al-Haqq dan al-khalq adalah dua aspek bagi wujud yang satu atau realitas yang satu.

Dalam Fushush al-Hikam, Ibn ’Arabi berkata:

Tidakkah engkau memahami bahwa al-Haqq tampak melalui sifat-sifat segala sesuatu yang baru, ketika Dia memberitakan diri-Nya dengan demikian, bahkan melalui sifat-sifat kekurangan dan sifat-sifat kesalahan atau celaan? Tidakkah engkau memahami bahwa al-makhluq tampak melalui sifat-sifat al-Haqq dari awalnya sampai akhirnya, semuanya itu adalah benar baginya sebagaimana sifat-sifat segala sesuatu yang baru adalah benar bagi al-Haqq. (Noer, 50)

Dilihat dari satu aspek, Allah adalah satu, tetapi dilihat dari aspek lain Dia adalah semuanya (kull) yang mengandung keanekaan. Dalam hal ini Ibn ‘Arabi berkata, “Ketahuilah, apa yang dinamakan Allah adalah satu (ahadî) nelalui Zat dan semua (kull) melalui Nama-nama.” Apa yang dinamakan Allah, jika dilihat dari segi zat-Nya, adalah keesaan, tetapi Dia, jika dilihat dari segi penampakan-Nya dalam segala yang ada (mawjudat) dengan bentuk Nama-nama, adalah keanekaan.

Readmore »»